3gp-seru.blogspot.com ~ Malam mulai jatuh di cakrawala. Sepulang dari kantor aku sempat istirahat sejenak. Sementara gelap langit mulai merayap menabur malam, aku membersihkan badan di kamar mandi. Khayalku ngelantur ngalor ngidul, fokusnya selalu kesebuah tubuh bugil seorang wanita. Limahari kerja dalam satu minggu di kantor swasta asing betul-betul nyaris merontokkan tubuh dan staminaku. Aku masih bujang, usia masih kepala dua. Kata orang, aku tergolong laki-laki type ideal wanita pada umumnya.

Setelah aku rapi, aku berfikir untuk santai ke sebuah pub di Ibukota. Pub langgananku adalah pub yang juga banyak dikunjungi wanita-wanita kelas atas. Aku memutuskan untuk pergi ke pub dengan naik taksi. Sampai di pub, suasananya masih sepi, maklum baru pukul delapan malam. Tapi kelompok musik yang tampil malam itu sudah siap beraksi. Sementara aku menunggu rekan-rekan yang biasanya nongkrong disana, aku menyempatkan diri untuk memesan minuman "margarita". Sebenarnya minuman ini untuk kaum cewek, tapi entah mengapa aku tiba-tiba tertarik pada minuman ini.

Setelah dua jam aku disana, tak kusadari pub itu sudah penuh pengunjung. Musik terdengar mengalunkan lagu silih berganti. Lagu-lagu yang dominan disana adalah jenis jazz, yang kebetulan pula adalah kegemaranku.

Aku tertarik pada penyanyi wanita yang melantunkan lagu "black magic woman" yang iramanya cukup nge-jazz ciptaan dari tuan Carlos Santana. Wanita itu melantunkannya dengan sangat pas dan indah sekali. Mataku nyaris tak berkedip menyaksikan kemerduan swara wanita penyanyi itu. Suasana pub sudah sedemikian ramainya. Tak kusadari disebelahku sudah ada seorang wanita yang berumur kira-kira empat puluhan, namun bodynya seksi sekali. Dia tersenyum padaku ketika aku memandangnya. Kubalas senyum itu dengan semanis mungkin. Entah mengapa dia meraih gelas minumanku dan meneguknya sekali.
"enak ya" katanya. Aku tersenyum lagi. Dia mengulurkan tangannya untuk salaman. Disebutkan sebuah nama,
"saya Fitria"
"Cukup panggil Fitri saja" Sambungnya. Aku juga menyebut nama,
"Eko" balasku.

Kami mengambil tempat yang agak gelap dan monjok. kami ngobrol ngalor-ngidul. Tante Fitria tampaknya sudah banyak minum, ocehannya mulai ngelantur. Rupanya dia sudah minum sedari tadi dan sudah menenggak sekian gelas miras (minuman keras). Tante Fitria merebahkan kepalanya di pundakku. Wow....wangi farfumnya, bukan main. Bukan farfum murahan. Mencium wangi farfum tante ini, mendadak batang kemaluanku mengeras dan mengembang. Aku ereksi, entah mengapa. Dari farfumnya saja sudah menggoda birahiku, bagaimana lekuk tubuhnya?

Tante Fitrian semakin ngelantur ocehannya, rupanya dia mulai mabok, dia minta dicium bibirnya, minta diremas toketnya. Wah...gawat!!! ini kan tempat umum ramai lagi? Tak kusangka dia memegangi batang kemaluanku dan meremas-remasnya lembut.
"Nah...kamu sudah naik ya?" katanya. Semakin jadi dia mengelus-elus selangkanganku. Aku semakin tak karuan, pusing tujuh keliling. Fitria menawarkan aku untuk mengantarkan dia kerumahnya. Kulihat jam tanganku, waktu telah menunjukkan pukul dua malam. Seharusnya pub itu sudah mulai tutup. Aku memenuhi permintaan Fitria yang baru aku kenal malam itu. Dia kubimbing dia berjalan keluar pub sambil tangannya dilingkarkan kepinggangku. Jalannya sudah sempoyongan. Dia menyodorkan kunci mobilnya. Kupikir dia tidak bawa mobil. Aku bingung yang mana mobilnya, dia masih ngoceh tak karuan. Dia menunjuk kesebuah mobil di areal parkir. Wah...wah....wah....sedan mewah rupanya, keluaran terbaru. Kubimbing Fitria masuk ke mobil, tapi aku bingung, kemana aku harus mengantarkannya? Ketika kutanya, dimana alamatnya, dia bilang
"Permata Hijau".
"Kawasan permata hijau di Jakarta kan luas? yang mana?" jawabku.
"jalan saja nanti tunjukkan" jawabnya.

Aku bawa dia ke kawasan permata hijau, Fitria nampak masih ada kesadarannya. Di malam itu dia menjadi navigatorku. Dia bilang belok kanan, aku belok kanan, dia bilang lurus, aku lurus, hingga kami sampai kesebuh rumah yang sedemikian luas dan besar sekali.

Fitria meraih tas tangannya dan mengeluarkan sebuah alat, wah rupanya remote control untuk membuka pintu gerbang, aku membawa dia masuk kehalaman rumah itu dan sampai tepat didepan pintu utamanya. Rumah itu besar dan tampak sepi. Aku memapah Fitria masuk ke rumah itu. Tiba-tiba saja Fitria merebahkan diri di sofa dan langsung terlentang. Ocehannya sudah mulai berkurang, tapi dia masih memiliki kesadaran.

Aku ditariknya dan dipeluknya, diciuminya sepuas hatinya. Terus terang, sudah sejak dari pub aku sudah birahi sekali dengan tante montok ini. Fitria melepaskan longdress warna merah itu pada bagian atasnya. Astaga, dia tidak memakai BH, tapi toketnya mesar dan montok. Aku disuruhnya melorotkan gaun itu hingga terlepas habis. Aku seperti kerbau yang ditusuk hidungnya, menurut saja akan perintah Fitria. Tubuh tante Fitria terlentang dengan hanya mengenakan celana dalam yang sempit dan ketat, warnanya merah juga. Aku semakin kesetanan melihat tubuh tante ini. Lalu Fitria menyuruh aku untuk melepaskan celana dalamnya. Aku kembali menurut saja. Ketika sedikit demi sedikit secara perlahan aku melorotkan celana dalam itu, tampak rimbunan bulu-bulu hitam lebat menutupi memek tante Fitria. Oh.....dahsyat sekali, baru kali ini aku melihat memek sedemikian tebal, besar dengan jembut lebat hitam. Denyut nadi jantungku sudah tak karuan, mungkin jika tensi darahku diperiksa, barangkali sudah tinggi sekali. Dasar otak setan, tiba-tiba saja aku ingin menyetubuhi tante Fitria. Tapi.....oh.....dia membuka selangkangannya, wooowwww!!! nantang rupanya. Disuruhnya aku menjitati memeknya. Dasar aku sontoloyo kok nurut saja. Ya kujilati memek itu seperti di adegan film VCD XXX yang kubeli di Glodok. Dengan sabar tekun dan teliti kujilati memek itu. Dari itil, klitorius, hingga lubang vaginanya. Fitria semakin menggeliat. Dia meremas-remas toketnya yang besar itu dan semakin terangsang.

Fitria bangkit dari celentangnya dan duduk titepi sofa. Disuruhnya aku membuka seluruh pakaianku. lagi-lagi dasar sontoloyo, aku nurut saja seperti kerbau yang ditusuk hidungnya. Aku bugil total dengan batang kemaluan berditi kencang menengang dihadapan tante Fitria. Batang kemaluanku persis dihadapan mukanya. Dia duduk, aku berdiri. Ditariknya lenganku agar aku lebih mendekat. Secepat ular menyambar kodok, tante Fitria memegangi penisku dan mengulumnya. Bagian kepala penisku dimain-mainkannya dengan lidah. Wah....nikmatnya hingga keujung sorga. Aku dibuat merem-melek oleh tante cantik-jelita ini. Kulihat diapun merem-melek menikmati hidangan penisku. Semakin lama semakin seru. Disuruhnya aku tiduran di lantai marmer itu, lalu sekujur tubuhku dijilatinya. Aku semakin fly, tidak ingat tugas yang numpuk di kantor, tidak ingat mobilku dibengkel harus dilunasi biayanya, tidak ingat masa berlaku KTP ku sudah habis, tidak ingat lagi hutangku belum dibayar, dan setumpuk tidak ingat...tidak ingat!.

Fitria menghentikan kegitannya sejenak, sedikit bicara banyak kerja. Lalu dia memasang posisi diatas selangkanganku. Dibimbingnya kontolku masuk keliang vaginannya. Aku tak sadar, tiba-tiba saja dia dudah ada diatas tubuhku. Tubuhnya menyatu dengan tubuhku, pelukannya hangat, sesekali bibirnya menciumi bibirku, pipiku, terkadang keningku. Goyangannya semakin menjadi. Gerakan pinggulnya terkadang goyang kiri-goyang kanan, terkadang dengan arah mengocok atas-bawah.

Semakin lama dia semakin menjadi-jadi, tapi kekuatanku untuk bertahan semakin lama juga semakin menipis. Sebenarnya aku sudah mau keluar untuk memuncratkan cairan maniku, tapi demi gengsi kutahan terus. Aduhhhh......dia melapaskan memeknya.
"Berdiri kamu!?" perintahnya. Aku kontan berdiri dia juga berdiri. Diraihnya tanganku.
"Jambak aku" Perintahnya lagi. Aku melotot.
"Kok aku disuruh menjambak?" Jawabkau.
"Sudah lakukan saja, bila perlu tampar pipiku, tampat atau apa saja yang menimbulkan rasa sakit" Pintanya. Aku berfikir sejenak, wah...tante ini mengidap kelainan seksual. Gawat aku ini.

Kujambak dia, kutampar dia namun lembut sekali.
"Yang keras dong?!" Kata Fitria setengah membentak. Reflek aku menampar pipinya dan menyambaknya. Fitria tampak semakin bernafsu dia minta ditampar lagi bahkan kalau perlu seperti menyiksa. dasar gawat, aku sudah konak sekali, kurebahkan Fitria di sofa dan kutunggangi selangkangannya, kusodok-sodok lubang memek yang sudah membesar itu dengan batang kemaluanku yang keras besar dan panjang. Aku dipeluknya dan dia justru menjambakku, oh....sakit banget! kujambak saja dia lgi, wah....kok semakin nikmat rupanya dia.

Fitria minta aku menyodok dari belakang. Dia pasang posisi "dog style" aku memasukkan penisku dari belakang pantatnya yang montok itu.
"Sodok yang keras sayang?" pintanya.
"Terus...terus.....nikmat banget. Sambil remas tetekku ya?" pintanya. Tanpa basa-basi aku menuruti perintahnya.
"Kalau mau keluar bilang ya? jangan dikeluarin di dalam " Pintanya.
"Takut hamil?" Jabawku.
"Bukan, aku pengen kamu menyemprotkan di dalam mulutku" jawabnya.

Tak lama kemudian, aku merasakan puncak nikmat, kutarik penisku dan kusodorkan dimulut tante Fitria, dia mengulumnya dan memainkan lidahnya, lalu.....Ohhhhh...cret...cret...cret....muncrat seluruh persediaan air maniku kedalam mulut Ftria. Dia tampak menikmatinya.

"Kok Tante belum orgasme?" tanyaku

"Siapa bilang? aku sudah dua kali, kamu saja yang eggak ngerasain?!" Jawabnya,

"Aku pengen lagi, yang seru dan seru!!! layani aku ya"

"Baik Tante" Jawabku sok macho.

Kami pindah ke kamar atas, kamar utamanya tante Fitria. Diatas tempat tidur yang luas da nyaman itu semua gaya kami prakteknya.
"Kamu minta gaya apa lagi?" Tantangnya.
"Tidak tante, aku sudah ngilu" jawabku. Dia menatapku dalam-dalam sambil menggelang.
"Payah kamu!" gumannya.
"Boleh aku minta gaya yang lain?" Tantangku tak kalah seru.
"Gaya apa"
"Aku minta dari anal!" jawabku tegas. Fitria tersenyum sambil mengecup keningku.
"Kamu suka itu?" aku mengangguk. Dia juga meng-angguk tanda setuju.

Fitria bangkit dari tempat tidur lelu berjalan menuju meja riasnya. Dia mengambil botol vaseline, lalu menghampiriku lagi dan mengoleskan cairan vasekine itu keseluruh batang kemaluanku. Dia juga mengolesi analnya denga sedikit vaseline.

Fitria naik ke tempat tidur, ambil posisi ditengah-tengah ranjang. Dia nungging dan meranggangkan pantatnya. Lagi-lagi dog style, tapi sasarannya beda. Kumasukkan perlahan-lahan kepala penisku kedalam dubur Fitria. Awalnya susah memang, tapi dengan kesabaran akhirnya masuk juga. Kugoyang dan kukocok dengan gerakan maju mundur. Ini adalah mengalaman pertamaku bersetubuh dengan tante-tante yang usianya jauh lebih tua dari usiaku. Dan ini kali pertama aku ngentot dengan target "dubur wanita".

"Masukkan jari-jarimu kedalam vaginaku" pinta Fitria. Aku melayaninya. Beberapa jari-jari tanganku menyolok-nyolok memek Fitria, sementara penisku masih bekerja giat di dalam dubur tante Fitria. Diluar dugaan, tante Fitria sangat menikmati permainan ini. Aku sedikit heran, kenapa mudah kontolku masuk ke duburnya? mungkin dia sering melakukan adegan ini dengan pria lain?. Sebenarnya aku ingin bertanya, tapi ku urungkan, takut dia tersinggung. Masa bodo!!! yang penting aku nikmat.

"Jambak aku Eko, jambak sekeras-kerasnya, bila perlu cubiti aku!" pintanya. Kuturuti kemauannya. Tapi makin lama-makin tak karuan. Aku sudah keluar dan lemas. Cairan maniku sudah kusemprotkan di dalam dubur tante Fitria, aku benar-benar lemas dan sudah ngilu, tapi dia masih minta lagi, lagi, lagi dan lagi. Aku disuruhnya menyabeti tubuhnya dengan ikat pinggangku, aku menolak, dia justru marah.

"Egois kamu!!!" bentaknya padaku.
"Aku sudah melayani kamu, tapi kamu tidak mau meladeni aku, apa maumu?!"
"Aku capek tante, lagi pula mana tega aku menyiksa tante?" Jawabku lirih.

"Sudah...!!! kamu istirahat saja, nanti kita lajutkan dengan yang lebih seru lagi!, tapi kamu harus melayani aku sampai aku puas betul!" perintahnya galak. Dia bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Aku menyusulnya. Di kamar mandi aku mandi masah malam itu. Tak kuduga, Fitria kembali beraksi di kamar mandi. Ketika aku asyik mengguyur tubuhku dengan air, dia manarik pantatku dan mengisap kontolku lagi. Kontan saja aku tegang lagi, dokocok, dielus, dijilat, dikulum dan diisap. Lagi-lagi nyembur air maniku di mulut Fitria, tapi kali ini sedikit sekali, sebab stok nya sudah menipis. Fitria menempelkan tubuhnya di tubuhku, kami saling peluk dalam keadaan basah, saling elus, saling cium, Ku jilati lagi memeknya, teteknya, bahkan seluruh tubuhnya, juga duburnya. Dia tahu aku sudah tak sanggup lagi. Dia cukup bijaksana, aku hanya disuruh memasukkan jari-jari tanganku kedalam lubang vaginanya dan memain-mainkan di dalam. Sambil kucium bibirnya aku melakukan adegan menyolok-nyolok vagina dengan jari. Benar juga, akhirnya dia orgasme lagi.

Selesai mandi kami ngobrol di ruang makan, sambil menikmati kopi panas dan makanan kecil. Kokok ayam jantang sudah terdengar dari kejauhan, hari segera akan fajar. Aku diserang rasa kantuk yang berat begitu juga Fitria. Kami akhirnya tidur di kamar tempat kami bergumul tadi.

Ketika aku terbangun, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, kulihat tante Fitria masih terlelap tidur. Dia masih bugil tidur terlentang. Ku tatap tubuhnya. Wah....aku konak lagi. Kumasukkan lagi kontolku ke lubang memeknya tante Fitria. Kayaknya aku memperkosa wanita yang tidur. Dia tidak sadar, kudengar dia mendengkur. Dasar gila! kok nikmat banget rasanya menyetubuhi cewek lagi tidur. Seluruh batang kemaluannya masuk ke vagina Fitria, kusodok-sodok secara wajar, kugesek-gesekkan kepala kontolku ke seluruh bulu-bulu kemaluan tente Fitria, dia tetap tidak terusik, tidurnya semakin lelap. Aku tak tahan lagi, kutindih dia, dan kupeluk dia yang sedang tidur, dan aku....cret...cret...cret....kumuncratkan cairan putih kedalam memeknya Fitria. Dia masih tertidur, wah...masa bodoh! perduli amat!

Setelah aku membersihkan tubuh, aku mengenakan pakaian, Fitria masih saja lelap dengan tidurnya. Tak tega rasanya aku membangunkan dia yang sedang menikmati mimpi indahnya. Tapi di dalam lubang vaginanya itu, masih tersimpan cairan maniku.

Kutatap Fitria, dia cantik sekali. Tapi kenapa dia tinggal sendirian dirumah semegah ini? siapa gerangan dia? kenapa dia jadi maniak sekali dan mengidap kelainan seksual? semuanya belum terungkap. Kunaikkan selimut dan kuselimuti Fitria agar lebih nyenyak tidurnya. Kuhidupkan AC dikamar itu, kuatur suhunya agar cukup sejuk. Aku harus pulang. Kutulis nomor HP ku diselembar kertas, dan kuucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas kisah asmara yang telah terjadi. Kutaruh lembaran kertas itu diatas meja riasnya Fitria.

Tertulis diatas kertas itu : "Malam indah....penuh bintang gemintang, tiada awan kelabu menaburi rembulan. Hati terpaut antara barat dan timur. Asmara berpadu diperaduan damai. Engkau adalah engakau, aku adalah aku, kita saling tida tahu. Detik demi detik, waktu bergulir, meniti kehidupan manusia yang fana ini. Air sorgawi telah kita reguk bersama, anggur memabukkan telah kita cicipi bersama, ada saat bertemu, ada saat berpisah. Engkau keselatan, aku keutara. Tangan kita telah saling menyalami, mulut kita telah saling menyapa, kita telah berkenalan, tapi tidak saling kenal. Kelak....mungkin ada rindu yang sendu, ada hati yang ingin menyatu. Disini engkau sendiri.....disana aku menyepi....., Fitria, terima kasih atas segalanya. Hubungi aku jika kamu perlu!"

Setelah itu, kutinggalkan rumah megah itu dan aku pulang naik bis angkutan umum.

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Top